35667807EDB2A2FB9F5FA516EDE5

Bank Indonesia (BI) mencurigai transaksi pembelian valuta asing yang mencapai Rp 1 miliar oleh pedagang valuta asing (PVA). Pasalnya mustahil PVA mampu menyiapkan secara fisik uang USD100 juta atau Rp 1 miliar tersebut.

“Apa iya PVA bisa secara fisik mengeluarkan USD100 ribu, fisik ini modal usaha melayani nasabah. Agak menjadi pertanyaan,” ujar Kepala Biro Humas BI, Difi A. Johansyah menanggapi keluhan Pedagang Valuta Asing (PVA), Rabu (1/5/2013).

Oleh karena itu, PVA wajib melampirkan data nasabah yang melakukan transaksi di atas US$100 ribu. Hal itu merupakan underlying atas surat edaran BI No.15/3/2013.

Untuk itu Difi menerangkan, pengaturan ini bukan hanya tertuju pada PVA melainkan pada bank. “Kami meluruskan underlying tujuannya melindungi PVA. Kita tidak ingin PVA dimanfaat oleh pihak yang mengambil keuntungan jangka pendek. Kita sayang kok sama PVA,” ucapnya.

Lalu penyertaan data nasabah bagi yang bertransaksi USD100 ribu, tambah Difi, tidak akan membuat nasabah PVA direbut oleh bank. “Tenang saja nggak ada itu, jangan khawatirlah,” tuturnya.

Selasa (30/4/2013) kemarin, Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA) mengeluhkan surat edaran Bank Indonesia (BI) tentang permintaan valas harus menyertakan dokumen underlying transaksi dari nasabah.

“Salah satu hal yang diatur oleh BI adalah bahwa permintaan valuta asing kepada bank oleh Pedagang Valuta Asing (AVA) dengan nilai nominal di atas US$100 ribu per bulan hanya dapat dipenuhi oleh bank apabila APVA menyertakan dokumen underlying transaksi dari nasabah terkait permintaan tersebut,” ujar Ketua APVA, Muhammad Idrus di Jakarta. (423)

Leave a Comment