JAKARTA (Pos Kota) – Keberadaan toko retail modern sebagai salah satu faktor yang memperparah ketimpangan ekonomi di perkotaan.
“Ketimpangan ekonomi di kota besar semakin parah, akibat kebijakan pemerintah yang tak memihak kepada rakyat,” kata Anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Muhamad Idrus, Rabu (2/4) sore.

Lihat saja toko retail modern marak hingga ke pelosok kampung, bahkan semakin menggurita. Sedangkan warung tradisional banyak yang gulung tikar. Saat ini ada 19.000 gerai toko retail modern di Indonesia.

Tragisnya, lokasi gerai retail modern berdekatan dengan warung yang menjual beraneka ragam dan harganya pun lebih murah. Akibatnya, ia mengungkap warung kelontong banyak yang gulung tikar, karena kalah bersaing.

Sementara jumlah warung tradisional sendiri, lanjut Idrus yang juga Ketua Umum BPP Asosiasi Pedagang Valuta Asing (APVA), tidak pernah jelas. Karena pemerintah tak pernah memandang keberadaan warung tradisional sebagai pelaku ekonomi potensial.

Hal senada juga dikatakan Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform Sapto Waluyo. “Dalam skala luas praktek kebijakan yang pro-retail modern akan memiskinkan warga. Sebab di gerai retail modern, pembeli harus membayar tunai saat membeli barang. Sedangkan di warung ,sebagian warga berutang saat belanja,” tandasnya.

Sehingga terjadi siklus keuntungan dan pembesaran aset di retail modern. Sedang warung tradisional mengalami siklus utang dan menurunnya aset hingga akhirnya gulung tikar,” jelasnya. (setiawan/yo)

Sumber: http://m.poskotanews.com/2014/04/03/toko-retail-modern-perparah-ketimpangan-ekonomi/ (774)

Leave a Comment